Untuk
penanganan bencana di Palu dan Donggala, Sulawesi Tengah, tim SAC melakukan kegiatan
Psychological First Aid. Kegiatan ini
kami lakukan dalam rentang waktu September 2018 sampai November 2018. Tidak
lupa kami juga mengucapkan terima kasih kepada para donatur dan relawan yang
telah terlibat dalam kegiatan ini.
Stefany
Livia Prajogo
Untuk
penanganan bencana di Lombok, Nusa Tenggara Barat, tim SAC melakukan kegiatan Psychological First Aid. Kegiatan ini
kami lakukan dalam rentang waktu Agustus 2018 sampai November 2018. Tidak lupa
kami juga mengucapkan terima kasih kepada para donatur dan relawan yang telah
terlibat dalam kegiatan ini.
Stefany
Livia Prajogo
Pelatihan Siap Siaga Bencana (Psychological First Aid) di Kelompok Bermain Sanggar Kreativitas PKLP Ubaya
fakultas psikologi ubaya 15.03
31
Oktober 2018,
Tim SAC memberikan pendidikan siap
siaga di Kelompok Bermain Sanggar Kreativitas PKLP Ubaya. Kegiatan ini dimulai
dengan materi mengenai pengenalan bencana. Mulai dari gempa bumi, tanah
longsor, angin puting beliung, banjir, dan kebakaran. Kami juga memberikan
cara-cara yang harus dilakukan kegiatan menghadapi bencana tersebut dengan
mengajarkan lagu siap siaga becana.
Anak-anak terlihat cukup antusias.
Kegiatan pun berlanjut ke simulasi gempa. Peluit tanda bahaya pun dibunyikan,
semua anak langsung berbaris keluar kelas, berjalan menuju ke titik kumpul
(lapangan). Kemudian, kami pun mengajarkan cara relaksasi, senam tapping. Setelah itu, kami pun memberikan
peragaan mengenai pemadaman api saat kebakaran. Salah satu anak pun diberikan
kesempatan untuk mencoba. Anak-anak pun terlihat begitu senang. Setelah itu,
acara pun kami tutup dengan melakukan high
five pada tiap anak.
Semoga
bermanfaat dan ayo siap siaga adik-adik!
Stefany
Livia Prajogo
Pelatihan Siap Siaga Bencana (Psychological First Aid) di SD Margie Surabaya
disaster psychology 14.55
23
Oktober 2018,
Tim SAC memberikan pendidikan siap
siaga bencana di SD Margie Surabaya. Kegiatan ini diikuti oleh para siswa mulai
dari TK hingga SMA. Kegiatan pertama yang dilakukan adalah penyuluhan di tiap
kelas oleh para fasilitator. Materi penyuluhan yang diberikan antara lain,
pengenalan tentang bencana, apa saja yang harus dilakukan ketika berada di
situasi gempa, angin puting beliung, dan banjir. Kemudian, dilanjutkan dengan
kegiatan simulasi gempa. Peluit tanda bahaya pun dibunyikan, semua anak
langsung diarahkan untuk berlari ke lapangan mengikuti jalur evakuasi yang
sudah disediakan.
Setelah anak-anak berkumpul di
lapangan, kami pun memberikan kegiatan relaksasi. Kegiatan relaksasi yang
dilakukan adalah senam tapping. Setelah
kegiatan selesai, anak-anak dibawa ke dalam gedung untuk diberikan materi
mengenai kebakaran dan belajar lagu siap siaga. Kegiatan ini pun ditutup dengan
foto bersama.
Semoga
bermanfaat dan ayo siap siaga !
Stefany Livia Prajogo
Sharing Forum : Pengenalan Potensi Bencana dan Pengurangan Risiko Bencana
fakultas psikologi ubaya 14.51
SAC
kembali lagi mengadakan sharing forum dengan
tema “Pengenalan Potensi Bencana dan Pengurangan Risiko Bencana”. Kegiatan ini
diadakan dua kali, yakni di tanggal 4 Oktober 2018 dan 18 Oktober 2018. Materi
disampaikan oleh Cindy Claudia, Agnes Claudia, dan Jauhar Helmi yang merupakan
mahasiswa psikologi angkatan 2015. Dalam kegiatan ini disampaikan macam-macam
cara perlindungan pertama dari gempa, angin puting beliung, kebakaran, dan
tanah longsor. Selain itu, ada juga kegiatan pengenalan dan cara memasang
tenda.
Semoga kegiatan ini
bermanfaat bagi teman-teman !
Sejenak juga, mari kita
berdoa untuk saudara kita di Lombok dan Palu...
Stefany Livia Prajogo
Pada
kesempatan kali ini, tim SAC bekerjasama dengan Institut Ilmu Kesehatan (IIK) Medika
Persada Bali untuk melaksanakan seminar nasional dengan tema peran ilmu
psikologi dalam pengurangan risiko bencana. Seminar ini diadakan di Kampus Institut
Ilmu Kesehatan Medika Persada Bali pada 9 Agustus 2018. Seminar ini diadakan
dengan tujuan memberikan pengetahuan mengenai kesiapsiagaan bencana kepada
masyarakat Bali. Hal ini dikarenakan Bali termasuk salah satu pulau yang rawan
bencana, namun jarang sekali adanya seminar ataupun pendidikan mengenai bencana
yang diselenggarakan di sana.
Kegiatan ini dibuka dengan penampilan tarian nan cantik khas
Pulau Bali. Selanjutnya, dilakukan perkenalan jalur evakuasi di gedung dan
sambutan yang dibawakan oleh Rektor IIK Medika Persada dan Wakil Dekan Fakultas Psikologi
Universitas Surabaya (Ubaya). Setelah itu, dilanjutkan dengan materi yang disampaikan oleh para
pembicara (keynote speaker), yakni :
1. Dr. I Gusti Lanang Made Rudiartha, MHA, dengan
materi pendidikan kebencanaan,
2. Dr.
Setiasih, dengan materi keluarga siap bencana,
3. Dr.
Nurlaila Effendy, dengan materi penerapan psikologi positif pada konteks
bencana,
4. Listyo
Yuwanto, M.Psi., dengan materi paradigma baru psychological first aid
Tepat
pukul 12.00, setelah semua pembicara selesai membawakan materi, diadakan ISHOMA
(Istirahat, Sholat, Makan). Kejadian tak terduga pun terjadi, adanya gempa yang
menguncang pulau Bali. Kegiatan seminar ini pun diberhentikan selama 15 menit
dan kemudian dilanjutkan dengan sesi chamber.
Sesi chamber adalah sesi dimana para pemakalah
akan dibagi ke dalam beberapa kelas untuk mempresentasikan penelitian mereka.
Para peserta seminar boleh memilih ingin masuk dan mendengarkan presentasi para
pemakalah. Rangkaian kegiatan seminar ini ditutup setelah sesi chamber selesai.
Akhir
kata, SAC mengucapkan terima kasih kepada para pembicara (keynote speaker), para pemakalah, para peserta seminar, para
panitia, dan tentunya kepada Institut Ilmu Kesehatan Medika Persada Bali atas
kesempatan yang diberikan.
Ayo siaga bencana !
Stefany Livia Prajogo
Akhirnya kami tiba di dusun Girpasang pada
tanggal 27 April 2018, sebuah dusun terpencil di Deles lereng Merapi Kabupaten
Klaten dengan membawa bantuan sembako dan pakaian dari para donatur. Biasanya
SAC Fakultas Psikologi Ubaya dalam kegiatan psychopedisi di kawasan terpencil
di lereng Merapi Kabupaten Sleman namun kali ini bergerak ke lereng utara di
daerah Kabupaten Klaten. Psychopedisi adalah program social activity
for communitySAC Fakultas Psikologi Ubaya yang disertai dengan bentuk pembelajaran
terhadap sebuah komunitas dalam beradaptasi dan bertahan dengan kondisi
keterbatasan baik materi, kemampuan atau ketrampilan, keterbatasan psikologi
ataupun kondisi alam yang berat. Dusun Girpasang dipilih dalam kegiatan
psychopedisi SAC karena memenuhi kriterai sebagai daerah yang terpencil, sulit
dijangkau, warganya membutuhkan dukungan kepedulian dan komunitas yang dapat
memfasilitasi pembelajaran tentang makna hidup bagi mahasiswa. Program ini
terselenggara berkat dukungan dari ILS+ Surabaya bersama relawan Pasag Merapi,
dan Radio Komunitas Jalin Merapi.
Dusun Girpasang merupakan dusun terpencil di lereng Merapi di daerah Deles
Kabupaten Klaten. Untuk dapat menjangkaunya kita harus berjalan kaki sangat
jauh melewati jurang yang ditempuh dengan medan yang cukup berat. Hanya ada
sekitar sembilan rumah yang dihuni dua belas kepala keluarga yang terdiri atas
lansia, remaja, dewasa usia produktif dan anak-anak. Kehidupan yang sangat
sederhana tampak dari bentuk relasi, mata pencaharian, fasilitas yang ada di
dusun, dan tempat tinggal. Kehidupan mereka terus berlangsung hingga saat ini
di tengah segala bentuk keterbatasan yang dihadapi berkat kemandirian, relasi
kekeluargaan antar warga dan dukungan terutama dari relawan di sekitar Deles
Kabupaten Klaten.
Mahasiswa yang tergabung dalam SAC
Fakultas Psikologi Ubaya mendapatkan kesempatan melakukan social
activity for communitydi dusun Girpasang dan belajar tentang perilaku
positif dari warga dusun. Ada kalanya alam mengajarkan manusia untuk berjuang dan
ada kalanya alam mengajarkan manusia untuk menerima kondisi. Usaha dan
kepasrahan harus seimbang agar hidup terasa tentram. Kekurangan yang dimiliki
bukan menjadi halangan untuk berbahagia. Selalu ada jalan untuk mencapai
kebahagiaan salah satunya berusaha mandiri memenuhi kebutuhan hidup, membalas
kebaikan setiap orang yang membantu sesuai kemampuan, menerima setiap orang
yang datang bersilaturahmi dengan ramah dan memastikan setiap tamu warga dusun
Girpasang aman melewati jurang dan sampai dengan selamat di lereng seberang.
Selalu ada panggilan untuk kembali ke Girpasang karena kami tidak mengalami
seperti yang dirasakan warga dusun Girpasang.
Listyo Yuwanto
Salah satu bencana
hidrometeorologi yang terjadi di Indonesia pada bulan November 2017 adalah
bencana banjir di kabupaten Wonogiri. Statistic Assistance Center (SAC)
Fakultas Psikologi Ubaya melalui Divisi Disaster Psychology juga turun serta
dalam proses penanganan penyintas pada heroic phase. Penanganan yang dilakukan
adalah pelayanan psikologis dan bantuan logistik sumbangan para donasi dari
Surabaya. Program yang dilakukan bekerja sama dengan ILS+ Surabaya dan BPBD
Kabupaten Wonogiri. Dua anggota SAC yang melakukan pelayanan adalah Cindy
Claudia dan Agnes Claudia yang keduanya merupakan angkatan 2015. Lokasi yang
dipilih berada di Desa Dlepih Kecamatan Tirtomoyo dengan pertimbangan banyaknya
jumlah pengungsi (1.142 jiwa) dan lokasi terparah bencana.
Pada fase pasca bencana yaitu heroic phase ditandai dengan
adanya bantuan yang datang terhadap penyintas bencana. Mulai dari bantuan
penataan pengungsian, medis, logistik, dan termasuk bantuan psikologis. Bantuan
psikologis tidak selalu bersifat penanganan trauma karena tidak selalu
penyintas bencana mengalami trauma.
Bentuk penanganan psikologis yang umumnya diberikan pada awal
heroic phase adalah aktivitas rekreasional. Beberapa aktivitas rekreasional
yang telah dilakukan antara lain bermain peran, menyanyi, menggambar,
mendongeng, aktivitas-aktivitas bergerak ringan dan sejenisnya. Aktivitas
rekreasional tersebut diberikan kepada semua tahapan usia penyintas mulai dari
anak-anak, remaja, dewasa, dan lansia
Aktivitas rekreasional ini dapat digunakan sebagai sarana
pengisi waktu luang yang menyenangkan saat berada di pengungsian. Dengan adanya
aktivitas pengisi waktu luang dapat mencegah kebosanan. Kebosanan jangka
panjang di pengungsian dapat membuat suasana emosi negatif, pikiran menjadi
fokus pada kejadian bencana yang baru saja terjadi, serta merasa tidak berguna.
Dengan aktivitas rekreasional masalah-masalah psikologis yang berpotensi
terjadi saat di pengungsian dapat dicegah.
Namun aktivitas rekreasional tidak hanya bermanfaat mengisi
waktu mencegah kebosanan. Aktivitas rekreasional juga dapat menjadi sarana
identifikasi awal penyintas bencana yang mengalami trauma bencana. Apabila
indikasi tersebut ditemui, maka perlu ditindaklanjuti dengan pendampingan
psikologis yang sesuai.
Aktivitas rekreasional bukan layanan psikologi profesional.
Siapapun dapat melakukannya dengan bekal kemampuan dan kemauan. Kemampuan
melakukan getting in, getting along, dan getting out. Kemampuan melakukan
aktivitas rekreasional yang menyesuaikan dengan kondisi penyintas bencana meliputi
usia, jenis kelamin, budaya, pendidikan, serta sosial ekonomi. Kemauan untuk
turun lapangan ke lokasi bencana serta berinteraksi secara humanis dengan para
penyintas.
Peran ilmu psikologi penting dalam konteks bencana dalam
pengurangan risiko bencana. Tidak hanya sekadar teori yang dipelajari, tetapi
juga dipraktekkan dalam semua fase bencana. Hal itulah yang mendasari SAC
Fakultas Psikologi Ubaya terus melakukan program penanganan bencana berbasis
psikologi sesuai kemampuan.
Listyo Yuwanto
Seminar Nasional & Call For Paper "Peranan Ilmu Psikologi Dalam Pengurangan Risiko Bencana"
bali 16.53
Statistic Assistance Center (SAC) Fakultas Psikologi, Universitas Surabaya bekerjasama dengan ILS+ dan IIK Denpasar, Bali dalam rangka kepedulian terhadap banyaknya bencana yang terjadi di Indonesia, proudly present: "SEMINAR NASIONAL PERANAN ILMU PSIKOLOGI DALAM PENGURANGAN RISIKO BENCANA". Yang akan diselenggarakan pada tanggal:
D/D/Y : Kamis, 9 Agustus 2018
Open Gate : 09.00 WITA - Selesai
Location : Kampus Institut Ilmu Kesehatan Medika Persada Denpasar, Bali.
Batas pendaftaran seminar pada tanggal 1 Juli 2018
HTM :
S1 / S2: Rp 150.000
Umum : 250.000
Penasaran? info lebih lanjut cek poster yukk! Save the date yaaa! Segera daftarkan diri kalian!
Untuk info hubungi cp:
Agnes Felicia Budiman : 081330580770
Ni Made Sintya Noviana : 081805402864
Dalam
rangka memperingati 7 tahun erupsi Gunung Merapi (Oktober 2010 – Oktober 2017),
SAC Fakultas Psikologi mengadakan simulasi siaga bencana. Tema kali ini yang
diusung adalah simulasi pemadaman kebakaran kepada anak-anak usia dini dan
guru-guru di TK Kuncup Mekar Desa Kepuharjo Cangkringan Sleman. Simulasi yang dilakukan merupakan bagian dari
pendidikan bencana yang secara ideal diberikan
sejak dini melalui pendidikan bencana yang dapat diberikan pada anak
usia dini. Pendidikan bencana merupakan tanggung jawab para agen pendidikan
seperti orang tua, guru, BPBD, dan agen-agen pendidikan lainnya. SAC melalui social activity for community divisi disaster
psychology juga mengambil peranan sebagai agen pendidikan bencana. Kegiatan
dimulai dengan pengenalan kondisi darurat bencana yang difasilitasi Cindy
Claudia. Dilanjutkan dengan simulasi pemadaman kebakaran menggunakan pasir,
karung goni basah, dan alat pemadam kebakaran ringan (apkar) dipandu Jauhar
Helmy, Cyntia Maria, dan Listyo Yuwanto.
Listyo Yuwanto
Listyo Yuwanto
Hari Pertama Masuk sekolah, Siswa di Pacet Mojokerto ini Diajari Simulasi Tanggap Bencana
psikologi bencana 09.59![]() |
| Sejumlah anak-anak SD Negeri 2 Sajen mengikuti simulasi tanggap bencana yang dikonsep dalam orientasi di hari pertama masuk sekolah, Senin (17/7). |
TRIBUNJATIM.COM, MOJOKERTO - Bunyi alarm tanda bencana tiba-tiba dibunyikan. Sontak saja puluhan anak-anak di SD Negeri 2 Sajen Kecamatan Pacet, Mojokerto, Jawa Timur ini ke luar berhamburan ke lapangan sekolah mencari perlindungan.
Kegiatan ini merupakan simulasi tanggap bencana yang dilakukan pihak sekolah pada hari pertama masuk di tahun ajaran baru.
Kawasan Kabupaten Mojokerto menjadi wilayah kedua yang mendapat prioritas pertama karena sering mengalami bencana alam. Oleh karena itu, untuk lebih tanggap bencana, sekelompok mahasiswa dari Psychological First Aid For Disaster Fakultas Psikologi Ubaya memberikan edukasi kepada pelajar SD Negeri 2 Sajen, Kecamatan Pacet, Senin (17/7/2017).
Pemberian materi tanggap bencana yang dikonsep melalui orientasi sekolah ini, rupanya dapat dengan mudah dicerna oleh para siswa-siswi di SD Negeri 2 Sajen.
Disetiap kelas, anak-anak diberikan empat materi tanggap bencana oleh satu orang pemateri. Dengan membawa visual media, para pelajar tampak antusias menyimaknya.
Materi yang diberikan pertama adalah pengenalan potensi bencana alam. Mulai dari gempa bumi, banjir, puting beliung dan tanah longsor, divisualkan melalui media gambar yang telah disiapkan sebelumnya.
Dalam satu media visual, satu bencana alam diberikan penjelasan secara detail. Misalnya saja gempa bumi, ketika terjadi gempa bumi maka apa yang harus dilakukan untuk pertama kali.
"Anak-anak diberikan pembekalan ketika ada gempa bumi, maka pertama kali yang harus dilakukan adalah melindungi kepala, kemudian kalau berada di dalam ruangan maka segera masuk ke dalam kolong meja. Dan yang terakhir hindari kaca. Dan ini kami sampaikan melalui nyanyian," kata Dosen Psikologi Ubaya Listyo Yuwonto.
Pengenalan tanggap bencana ini sengaja menyasar anak-anak yang masih belia karena cenderung memiliki psikologis yang lebih lama mengalami trauma ketika ada bencana alam. Sebab selama ini, anak-anak yang menjadi korban bencana alam akan mengalami trauma yang dapat mempengaruhi psikologis hingga di masa depan.
"Anak itu sangat mudah mengingat. Ketika mereka tinggal di daerah yang sering terjadi bencana, maka sudah seharusnya mereka lebih paham ketika nantinya ada bencana alam. Kenapa kita berikan dihari pertama, karena kebanyakan sekolah pada hari pertama hanya untuk pengenalan dan cenderung kosong. Kenapa tidak kita berikan materi tanggap bencana yang dikonsep dengan simulasi secara langsung supaya mereka lebih paham," jelasnya.
Setelah pemberian materi di dalam ruangan, anak-anak pun kemudian mengikuti simulasi di luar ruangan. Mulai dari mencari tempat titik kumpul aman pertama sesaat setelah bunyi alarm bencana dinyalakan, hingga pemanasan yang bertujuan untuk menghilangkan trauma anak. Dan yang terakhir, anak-anak ini diberikan bekal bagaimana menyalakan Alat Pemadam Api Ringan (APAR). (Surya/Rorry Nurmawati)
Sumber: http://jatim.tribunnews.com/2017/07/17/hari-pertama-masuk-sekolah-siswa-di-pacet-mojokerto-ini-diajari-simulasi-tanggap-bencana














